Ike Irmawati Purbo Astuti
Fakultas Kedokteran, Universitas Yarsi, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Angka Kejadian Pasien Penderita TB-Paru-HIV di RSPI Prof.Dr.Sulianti Saroso Pada Tahun 2024 Nada Valisha Hanun; Titiek Djannatun; Ike Irmawati Purbo Astuti
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1127

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) dan HIV merupakan masalah kesehatan yang signifikan, mengingat infeksi HIV dapat menurunkan sistem imun dan secara drastis meningkatkan risiko koinfeksi TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian koinfeksi TB-HIV serta faktor-faktor yang berhubungan pada pasien TB di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 274 pasien TB yang diambil melalui teknik total sampling berdasarkan data rekam medis periode Januari–Desember 2024. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat dengan regresi logistik biner. Hasil: Angka kejadian koinfeksi TB-HIV pada pasien TB dalam studi ini mencapai 22,6%. Hasil analisis menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, riwayat kontak TB, dan jumlah CD4 memiliki hubungan dengan kejadian TB-HIV. Faktor prediktor yang paling dominan adalah jumlah CD4 dan riwayat kontak TB. Pembahasan: Kejadian koinfeksi TB-HIV sangat dipengaruhi oleh status imunologis pasien dan riwayat paparan. Jumlah CD4 yang rendah memicu kerentanan terhadap terjadinya TB aktif, sementara riwayat kontak memperbesar kemungkinan penularan. Simpulan: Angka kejadian TB-HIV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2024 sebesar 22,6%, dengan jumlah CD4 dan riwayat kontak TB sebagai faktor paling berhubungan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan skrining ganda dan deteksi dini untuk mendukung pengendalian koinfeksi TB-HIV
Angka Kejadian TB Paru Pada Pasien Penderita Diabetes Melitus di RSPI Prof.Dr.Sulianti Saroso Pada Tahun 2024 Nabila Zabeham Wiratno; Titiek Djannatun; Ike Irmawati Purbo Astuti
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1129

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) dan Diabetes Melitus (DM) merupakan masalah kesehatan global yang saling berkaitan, di mana DM meningkatkan risiko terjadinya TB akibat gangguan sistem imun. Indonesia termasuk negara dengan beban TB tinggi, sehingga perlu dilakukan penelitian terkait kejadian TB pada pasien DM. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien TB Paru di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2024 (N=291). Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (Chi-Square), dan multivariat (regresi logistik). Hasil: Angka kejadian TB-DM sebesar 27,1%. Kasus terbanyak ditemukan pada usia dewasa dan laki-laki. Terdapat hubungan signifikan antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian TB-DM (p<0,05). Namun, pada analisis multivariat hanya usia yang menjadi faktor dominan (OR=2,260). Selain itu, usia dan status DM berhubungan dengan prognosis TB Paru. Pembahasan: DM meningkatkan risiko TB melalui gangguan imunitas akibat hiperglikemia. Usia lanjut memperburuk kerentanan terhadap TB dan prognosis penyakit. Meskipun laki-laki lebih banyak terkena, faktor usia lebih berperan dominan secara statistik. Koinfeksi TB-DM juga berkaitan dengan outcome klinis yang lebih buruk. Simpulan: Terdapat hubungan antara DM dan peningkatan kejadian TB Paru, dengan usia sebagai faktor dominan. Skrining TB pada pasien DM serta pengendalian gula darah sangat penting untuk menurunkan risiko dan memperbaiki prognosis.