Fenomena post-power syndrome merupakan tantangan psikososial yang kerap muncul ketika individu mengalami kehilangan otoritas dan peran kepemimpinan, termasuk dalam konteks kepemimpinan Kristen. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji fenomena tersebut secara teologis dan biblika dengan menjadikan Ulangan 31–34 sebagai fokus analisis utama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis analisis biblika-teologis, yang mencakup pembacaan teks secara cermat, eksegesis naratif, serta sintesis tematik dalam kerangka kanonik dan teologis Alkitab. Sumber data meliputi teks Alkitab, literatur teologi biblika, dan kajian terpilih dalam bidang psikologi kepemimpinan yang relevan dengan isu transisi kekuasaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Musa menghadapi pengalihan kepemimpinan kepada Yosua tanpa memperlihatkan disorientasi identitas maupun kerentanan spiritual yang lazim dikaitkan dengan post-power syndrome. Temuan ini mengindikasikan bahwa kematangan spiritual, ketaatan terhadap kehendak Allah, serta pemahaman kepemimpinan sebagai mandat ilahi yang bersifat sementara berperan signifikan dalam mengantisipasi krisis pascakepemimpinan. Artikel ini mengusulkan langkah-langkah antisipatif bagi pemimpin Kristen, antara lain pembentukan spiritualitas yang matang, internalisasi teologi kekuasaan yang berorientasi pada pelayanan, serta pendampingan pastoral yang berkelanjutan dalam masa transisi kepemimpinan.
Copyrights © 2026