Stunting terus menjadi permasalahan utama dalam kesehatan masyarakat Indonesia, dengan prevalensi nasional sebesar 20,2% menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, di mana tercatat 83 kasus di Puskesmas Benu-Benua, Kota Kendari. Sebagai strategi pencegahan, pemerintah melaksanakan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas implementasi Program MBG dari perspektif petugas gizi dan kader posyandu, menggunakan kerangka manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) di Dapur SPPG Dapu-Dapura, Kelurahan Dapu-Dapura, Kota Kendari. Metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi diterapkan, melibatkan 5 informan yang dipilih melalui purposive sampling: 2 informan kunci (petugas gizi dan kader posyandu) serta 3 informan pendukung (kepala dapur SPPG dan 2 ibu hamil). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, rekaman audio, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas optimal pada planning, dengan menu sesuai standar gizi seimbang dan jadwal distribusi prioritas. Organizing terstruktur melalui pengadaan PO H-1 serta tim distribusi 4 orang ditambah 2 kader, meskipun berisiko kelelahan chef pada jam kerja pukul 01.00 WIB dan ketergantungan supplier tunggal yang rentan kekosongan stok. Actuating higienis dalam pengolahan bahan, tetapi defisien pada penggunaan masker di dapur akibat panas serta distribusi menggunakan mobil bak terbuka untuk ibu hamil. Controlling kuat pada inspeksi dapur dan umpan balik (kepuasan ibu hamil tinggi), namun lemah dalam monitoring lapangan. Secara keseluruhan, Program MBG efektif secara operasional, tetapi memerlukan penguatan hilir guna memastikan kepatuhan SOP. Kesimpulan: Implementasi MBG berhasil melalui kerangka POAC, dengan organizing yang solid pada pengadaan bahan dan tim distribusi; namun, jam kerja chef berpotensi mengancam kesehatan, supplier tunggal menghambat pasokan, actuating higienis meski masker minim dan kendaraan tidak sesuai SOP, serta controlling superior pada sidak dan umpan balik (kepuasan tinggi) tetapi defisien pada pengawasan lapangan (LILA/KEK). Rekomendasi meliputi penguatan tim lapangan, diversifikasi supplier/cadangan chef, kendaraan tertutup, penyediaan APD lengkap, pelaporan terstruktur, dan ketaatan karyawan terhadap pedoman tata kelola Program MBG
Copyrights © 2026