This study evaluates the structural behavior of reinforced concrete beam–column joints strengthened with ferrocement using nonlinear finite element analysis performed in MIDAS FEA. Beam–column joints are critical regions in reinforced concrete structures, particularly under seismic loading, where strength and ductility demands are significant. Five numerical models were analyzed, consisting of one unstrengthened control model and four strengthened models with variations in wire mesh diameter, number of wire mesh layers, and mortar compressive strength. The analysis focused on the load–displacement response, ultimate load capacity, ductility, and failure mechanisms of the joints. The results show that ferrocement strengthening significantly improves joint performance by increasing the initial cracking load and ultimate load by approximately 35–40% compared to the unstrengthened model. Among the strengthened configurations, the model with higher mortar compressive strength (fc45) exhibited the highest ultimate capacity and ductility, accompanied by a more stable post-cracking response and delayed crushing of the core concrete. Overall, the findings confirm that ferrocement is an effective strengthening technique for enhancing the strength, ductility, and crack control of reinforced concrete beam–column joints, with mortar compressive strength having a more dominant influence than the number of wire mesh layers. Abstrak Penelitian ini mengevaluasi perilaku struktural sambungan balok–kolom beton bertulang yang diperkuat menggunakan ferrocement melalui analisis elemen hingga nonlinier dengan perangkat lunak MIDAS FEA. Sambungan balok–kolom merupakan elemen kritis dalam struktur beton bertulang, khususnya terhadap beban gempa, sehingga peningkatan kapasitas dan daktilitasnya menjadi aspek yang penting. Dalam penelitian ini dianalisis lima model numerik, yang terdiri dari satu model tanpa perkuatan sebagai pembanding dan empat model dengan perkuatan ferrocement yang divariasikan berdasarkan diameter wiremesh, jumlah lapisan wiremesh, serta mutu mortar. Analisis dilakukan untuk mengevaluasi respons beban–perpindahan, kapasitas ultimit, daktilitas, serta mekanisme keruntuhan sambungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa perkuatan ferrocement mampu meningkatkan beban retak awal dan kapasitas ultimit sambungan hingga sekitar 35–40% dibandingkan dengan model tanpa perkuatan. Model dengan mutu mortar lebih tinggi (fc45) menunjukkan kinerja terbaik dengan kapasitas ultimit dan daktilitas tertinggi, disertai mekanisme keruntuhan berupa crushing beton inti yang terjadi secara lebih terkendali. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa ferrocement merupakan metode perkuatan yang efektif dalam meningkatkan kapasitas, daktilitas, dan kontrol retak pada sambungan balok–kolom beton bertulang, dengan konfigurasi optimal diperoleh pada penggunaan wiremesh Ø6 mm dan mutu mortar tinggi.
Copyrights © 2026