Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan utama, terutama pada pasien dengan riwayat pengobatan tidak tuntas yang berisiko mengalami kekambuhan dan resistensi obat. Faktor komorbid diabetes melitus tipe 2 (DMT2) akan menyebabkan kuman TB sulit dikendalikan. Laporan Kasus: Seorang laki-laki 57 tahun datang dengan sesak nafas progresif, batuk berdahak kronik, demam hilang timbul, serta penurunan berat badan signifikan. Pasien memiliki riwayat konsumsi OAT lebih dari satu bulan namun berhenti lebih dari dua bulan (loss to follow up). Foto toraks menunjukkan infiltrat lapangan atas–tengah paru, dan Tes Cepat Molekuler (TCM) menunjukkan Mycobacterium tuberculosis (MTB) terdeteksi dengan Rifampicin Resistance Not Detected. Pasien langsung diberikan OAT lini pertama disertai vitamin B6, serta dilakukan Drug Susceptibility Test (DST) yang kemudian mengonfirmasi tidak adanya resistensi obat. Diabetes melitus Tipe 2 yang tidak terkontrol diterapi dengan insulin, dan hiponatremia juga dikoreksi. Kesimpulan: Tuberkulosis paru sensitif obat pada pasien dengan riwayat loss to follow up memberikan respons baik terhadap OAT lini pertama berbasis hasil TCM dan DST. Pendekatan komprehensif dan kepatuhan terapi menjadi kunci keberhasilan pengobatan bersamaan dengan pengontrolan ketat gula darah pada pasien DMT2.
Copyrights © 2026