Pergeseran paradigma global dari Revolusi Industri 4.0 menuju era Society 5.0 menuntut transformasi fundamental dalam tata kelola pendidikan. Jika era sebelumnya berfokus pada otomatisasi mesin, Society 5.0 menekankan pada integrasi teknologi yang berpusat pada manusia (human-centered). Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi manajerial, di mana banyak pemimpin sekolah memahami kepemimpinan digital secara sempit sebatas kecakapan teknis (tech-savvy) dan pengadaan infrastruktur, tanpa visi humanis. Artikel ini bertujuan untuk mendekonstruksi pemahaman lama tersebut dan menawarkan kerangka kerja kompetensi baru yang adaptif. Metode yang digunakan adalah studi konseptual kritis dengan menganalisis berbagai dokumen kebijakan dan artikel jurnal bereputasi. Hasil pembahasan merumuskan model kompetensi yang mencakup tiga pilar utama: (1) Data-Driven Empathy (pemanfaatan analitik data untuk dukungan psikologis siswa), (2) Ethical Stewardship (pengawalan etika dan privasi data), dan (3) Agile Collaboration (kolaborasi tangkas dalam ekosistem hybrid). Artikel ini menyimpulkan bahwa manajer pendidikan masa depan harus bertransformasi dari administrator birokrasi menjadi digital humanist yang mampu menggunakan teknologi untuk memanusiakan ekosistem pendidikan. Implikasi praktis penelitian ini merekomendasikan revisi standar kompetensi kepala sekolah dengan memasukkan indikator kematangan budaya digital dan penerapan strategi inklusif Low-Tech, High-Impact.
Copyrights © 2026