AbstrakKamar operasi (OK) merupakan unit berbiaya tinggi sekaligus berpotensi menjadi pengungkit revenue rumah sakit. Pada RSGM militer berstatus Badan Layanan Umum (BLU), OK kerap belum berfungsi sebagai profit center karena keterbatasan SDM anestesi, kesenjangan kapasitas rawat inap, dan kelengkapan tata kelola klinis. Penelitian ini bertujuan menyusun strategi optimalisasi OK RSGM Ladokgi TNI AL R.E. Martadinata Jakarta untuk meningkatkan revenue tanpa mengabaikan mandat dukungan kesehatan militer. Penelitian menggunakan studi kasus deskriptif kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan telaah dokumen terhadap 10 informan kunci. Data dianalisis dengan model Miles dan Huberman, lalu faktor strategis dikuantifikasi secara semi-kuantitatif menggunakan IFAS dan EFAS untuk menentukan posisi SWOT. Hasil menunjukkan selisih IFAS (S minus W) sebesar -0,180 dan selisih EFAS (O minus T) sebesar +0,159, sehingga OK berada pada Kuadran III (strategi WO atau turnaround). Prioritas perbaikan berfokus pada tiga prasyarat profit center, yaitu kemandirian SDM anestesi, kapasitas rawat inap minimal 12 tempat tidur sesuai regulasi, dan legalisasi SPO anestesi umum. Rancangan Business Model Canvas menekankan segmentasi pelanggan Misi, Volume, Profit, penguatan proposisi nilai keamanan prosedur melalui disiplin dan sterilitas, serta pengembangan kanal B2B dengan asuransi atau korporasi. Simulasi indikatif menunjukkan potensi peningkatan revenue bulanan dari Rp57 juta menjadi Rp195 juta dengan payback period sekitar 11,4 bulan pada investasi Rp1 miliar. Integrasi SWOT, Business Model Canvas, dan simulasi kelayakan menghasilkan blueprint transformasi OK yang praktis dan berpotensi direplikasi pada RSGM BLU bermandat ganda. Kata kunci: kamar operasi; Business Model Canvas; SWOT; BLU; RSGM; turnaround; revenue
Copyrights © 2026