Can democracy, which has been damaged in this digital age, still be restored? Hannah Arendt, who experienced democracy being destroyed by the German totalitarian regime, offers a powerful ray of hope for the restoration of democracy. Through phenomenological approach, she views humans as beings capable of making new beginnings, an ability she calls natality. Unlike the bleak picture in The Origins of Totalitarianism—in which Arendt analyzes the collapse of the republic through the destruction of public space—the concept of natality in The Human Condition opens up the possibility for the restoration and reinvigoration of the republic. However, the author argues that Arendt’s republican ideas face challenges in the digital communication era. Therefore, before suggesting ways to restore democracy according to Arendtian persopective, the author first explains the new difficulties facing democracy in the digital era and reinterpret natality in this new context as a practice of resistance to algorithmic determinism. In the digital age, humans do not lose their natality; they can always reopen the possibility of starting something new. Abstrak Apakah demokrasi yang rusak di era digital ini masih dapat dipulihkan? Hannah Arendt yang mengalami demokrasi yang dirusak oleh rezim totaliter Jerman memberi cahaya harapan yang sangat kuat untuk pemulihan demokrasi. Lewat pendekatan fenomenologis ia memandang manusia sebagai makhluk yang mampu membuat permulaan baru, kemampuan yang disebutnya natalitas. Berbeda dari gambaran kelabu dalam Ursprünge totaler Herrschaft (1955) —di mana Arendt menganalisis proses runtuhnya republik melalui penghancuran ruang publik—konsep natalitas dalam Vita activa (1960) membuka kemungkinan bagi pemulihan dan penguatan kembali republik. Namun penulis berpendapat bahwa gagasan republikan Arendt ini mendapat tantangannya di era komunikasi digital, sehingga sebelum menyarankan cara pemulihan demokrasi dalam perspektif Arendtian penulis lebih dahulu menjelaskan kesulitan-kesulitan baru bagi demokrasi di era digital. Penulis akan memaknai kembali natalitas dalam konteks baru ini sebagai praktik resistensi atas determinasi algoritmik. Di era digital manusia tidak kehilangan natalitas; ia selalu dapat membuka kembali kemungkinan untuk memulai sesuatu yang baru. Kata-kata kunci: demokrasi, gerakan legislasi publik, natalitas, pluralitas, republik, komunikasi digital
Copyrights © 2026