Gastroenteritis akut merupakan salah satu penyebab utama rawat inap, terutama pada kelompok usia dewasa dan anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jenis terapi (zinc, loperamide, attapulgit, dan probiotik) dengan kadar leukosit, frekuensi buang air besar (BAB), dan lama rawat inap pada pasien gastroenteritis akut di Rumah Sakit X Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik terhadap 77 pasien. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis terapi dengan kadar leukosit (p = 0,009) dan frekuensi BAB (p = 0,023), namun tidak terdapat hubungan signifikan dengan lama rawat inap (p = 0,162). Attapulgit menunjukkan proporsi normalisasi leukosit tertinggi (88%) dan durasi rawat inap <3 hari paling besar (81%). Loperamide efektif menurunkan frekuensi BAB (<4 kali/hari) sebesar 64%. Zinc meningkatkan respons imun yang ditandai dengan peningkatan leukosit, sementara probiotik membutuhkan waktu lebih lama untuk menunjukkan efek klinis. Kesimpulan, terapi attapulgit dan loperamide efektif untuk penanganan gejala akut, sedangkan zinc dan probiotik lebih berperan dalam mendukung pemulihan sistem imun dan mencegah kekambuhan. Pendekatan kombinasi keduanya dapat menjadi strategi yang optimal dalam tatalaksana gastroenteritis akut.
Copyrights © 2026