Pendahuluan: Angka kematian bayi (AKB) merupakan salah satu indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak. Asfiksia neonatorum mengalami kecenderungan peningkatan, oleh karena itu, diperlukan penatalaksanaan yang komprehensif untuk menanganinya. Data rujukan RSUD Datu Sanggul periode Januari tahun 2021 sampai November tahun 2022 menunjukkan sebanyak 27 kasus rujukan bayi dengan asfiksia yang diterima di wilayah Kabupaten Tapin. Pada bulan Januari-Desember 2021 didapatkan sebanyak 16 kasus, sedangkan di tahun 2022, periode bulan Januari-November didapatkan sebanyak 11 kasus rujukan dengan asfiksia. Tujuan: mengetahui penatalaksanaan asfiksia bayi baru lahir oleh bidan prarujukan ke RSUD Datu Sanggul Kabupaten Tapin dengan mengeksplorasi karakteristik bidan prarujukan (meliputi umur, pendidikan terakhir, pelatihan resusitasi dan masa kerja). Tahap persiapan, pelaksanaan dan pascaresusitasi bayi dengan kasus asfiksia. Proses pengambilan keputusan oleh bidan prarujukan dalam melaksanakan rujukan kasus bayi asfiksia. Metode: Deskriptif kualitatif dengan desain fenomenologis. Tiga informan utama dan tiga informan triangulasi. Hasil: Informan utama berumur 35-40 tahun dengan masa kerja sebagai bidan 10-15 tahun, dan seluruh informan utama sudah pernah mengikuti pelatihan penanganan bayi dengan kasus asfiksia. Informan sudah mengetahui penanganan bayi asfiksia, yaitu dari tahap persiapan peralatan, namun masih mengalami kendala, yaitu minimnya alat untuk pelaksanaan dan pascaresusitasi. Dalam pengambilan keputusan rujukan bayi asfiksia, sudah diberikan edukasi kepada orang tua atau keluarga bayi. Simpulan: Penatalaksanaan asfiksia BBL oleh para bidan sudah memadai, tetapi perlu ditingkatkan pada tahap persiapan. Tetap diperlukan pelatihan berkala, peningkatan fasilitas kesehatan, serta jejaring rujukan yang baik.
Copyrights © 2026