PKL Kuliner sebagai salah satu komponen utama dari usaha mikro memiliki peran yang cukup berarti dalam perputaran ekonomi. Akan tetapi keberadaannya kurang mendapat dukungan pemerintah khususnya dalam hal penyediaan lokasi usaha, sehingga mendorong mereka memanfaatkan pada fasilitas-fasilitas umum untuk melakukan kegiatan usahanya. Di satu sisi PKL Kuliner dibutuhkan oleh masyarakat sekitar, akan tetapi di sisi lain keberadaan PKL kuliner membawa image buruk bagi citra kota, karena umumnya : 1). Wadah juga penataanya yang tidak estetis, tidak teratur bahkan terkesan kumuh, 2). Aktivitasnya menimbulkan masalah sampah, yang dapat menurunkan kualitas lingkungan sekitar, 3). Berpotensi mengganggu sirkulasi baik pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor, bahkan tidak jarang menyebabkan terjadinya kemacetan di beberapa simpul jalan, karena keberadaanya yang tidak teratur. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep teritori dari PKL Kuliner yang beraktivitas di kawasan perdagangan 45 kota Manado. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan panduan bagi pemerintah kota dalam upaya penataan kawasan perdagangan yang nyaman, aman dan estetis dengan tetap memberi ruang bagi PKL Kuliner dalam melakukan aktivitasnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah behavioral mapping yang meliputi : place-centred mapping dan person centred mapping. Dari hasil pemetaan dalam penelitian ini, ditemukan bahwa interaksi antara PKL Kuliner dengan berbagai elemen yang ada di sekitar kawasan tersebut, baik itu elemen fix, elemen semi fix maupun elemen non fix menghasilkan 2 tipe PKL Kuliner, yaitu 1). Tipe Mobile (bergerak) dengan 4 pola dan 2). Tipe Menetap dengan 5 pola.
Copyrights © 2020