Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi permainan berbasis projek pada satuan Pendidikan Anak Usia Dini melalui Kurikulum Merdeka, mendeskripsikan karakteristik dari kurikulum merdeka dan implementasinya pada satuan Pendidikan Anak Usia Dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian pustaka. Adapun hasil dari penelitian ini adalah Pertama, Permainan untuk anak-anak membuat anak merasa bahagia, menurut Hurlock permainan terbagi menjadi dua kategori. Pertama, bermain aktif yang memberikan kebahagiaan dari tindakan anak itu sendiri. Anak-anak di usia dini lebih suka aktivitas ini karena bermain adalah bagian dari kehidupan mereka. Kedua, bermain pasif, yang lebih berfungsi sebagai hiburan. Anak kecil tidak terlalu menikmati bermain ini, tetapi lebih suka melihat orang lain dan mencari perhatian. Mereka sering menikmati menonton video favorit. Kedua, Kurikulum Merdeka di PAUD disebut Fase Fondasi, dengan ciri utama sebagai berikut. Pertama, pembelajaran dilakukan melalui aktivitas bermain, yang dianggap penting dalam proses belajar anak. Kedua, Capaian Pembelajaran (CP) dibuat sederhana dan mengacu pada tiga komponen: Nilai Agama dan Budi Pekerti, Identitas Diri, serta Dasar-Dasar Literasi dan Ilmu Pengetahuan seperti Matematika, Teknologi, Rekayasa, dan Seni. Ketiga, terdapat proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang merupakan aktivitas di luar kelas untuk mengembangkan enam aspek Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan berakhlak baik, menghargai keberagaman, bergotong royong, mandiri, berpikir kritis, dan kreatif. Ketiga, Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Satuan PAUD meliputi Perencanaan Pembelajaran yang Berpusat pada Anak, Pelaksanaan Pembelajaran Merdeka Bermain Tantangan dan Strategi Implementasi Meskipun kurikulum ini memberikan keleluasaan, pelaksanaannya di lapangan sering kali terhambat oleh masalah yang berasal dari dalam (sekolah) maupun dari luar (lingkungan dan kebijakan yang ada). Beberapa tantangan utama yang dihadapi satuan PAUD dalam implementasi Kurikulum Merdeka, antara lain: Keterbatasan Pemahaman Konsep Esensial, Kompetensi dan Kesiapan Guru dan Keteratasan Sarana dan Prasarana.
Copyrights © 2026