Realitas global kontemporer yang ditandai oleh perang, pandemi, dan berbagai krisis sosial telah melahirkan pengalaman trauma kolektif yang menantang pemahaman tradisional tentang kepemimpinan Kristen. Dalam banyak konteks gereja, otoritas kepemimpinan selama ini sering dikaitkan dengan posisi institusional. Namun pengalaman penderitaan bersama telah mengubah ekspektasi komunitas iman terhadap pemimpin gereja. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi fondasi teologis kepemimpinan Kristen dalam konteks trauma kolektif serta merumuskan paradigma kepemimpinan yang mampu merespons realitas penderitaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan teologis. Analisis difokuskan pada tema-tema teologis utama seperti inkarnasi, teologi salib, dan pengharapan eskatologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristen dalam dunia yang terluka memperoleh legitimasi dari kehadiran yang inkarnasional, solidaritas empatik, serta kemampuan memelihara pengharapan komunitas di tengah pengalaman penderitaan.
Copyrights © 2026