Budaya sungkan sebagai nilai relasional dalam masyarakat Jawa memainkan peran penting dalam menjaga harmoni sosial, namun pada saat yang sama berpotensi menghambat kejujuran dan keterbukaan dalam relasi. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi makna etika relasional dalam budaya sungkan melalui dialog dengan pendekatan teori shared praxis dari Thomas Groome. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode teologi praksis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sungkan mengandung ambiguitas etis, sehingga perlu ditransformasikan melalui proses refleksi kritis dan dialog iman. Rekonstruksi yang dihasilkan adalah konsep etika relasional dialogis yang tetap menjaga harmoni sebagai nilai kultural, namun sekaligus menegaskan kejujuran, keterbukaan, dan sikap kritis sebagai fondasi relasi yang autentik dan transformatif.
Copyrights © 2026