Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, menghadapi ancaman keamanan multidimensi di lima pulau besar Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Studi ini menganalisis strategi intelijen maritim dalam mengantisipasi ancaman konvensional dan non-tradisional di kawasan-kawasan tersebut, mengidentifikasi kelemahan sistem intelijen maritim TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut), serta merumuskan rekomendasi strategi terpadu. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitik kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima informan strategis dari satuan-satuan kunci TNI AL (Sintelal, Pusintelal, Sopsal, Puskodal Mabesal, dan Cyberal) dan dianalisis menggunakan perangkat lunak NVivo serta analisis SWOT. Temuan penelitian mengungkapkan tiga kelemahan struktural: fragmentasi koordinasi antarlembaga, keterbatasan teknologi pengawasan, dan kesenjangan sumber daya manusia. Analisis SWOT menempatkan strategi intelijen maritim pada Kuadran I (X=0,665; Y=0,278), merekomendasikan strategi SO agresif yang memaksimalkan jaringan HUMINT dan pangkalan angkatan laut strategis guna memanfaatkan kemajuan teknologi AI-big data dan kerja sama regional. Tiga pilar strategis diusulkan: sistem berbasis teknologi terpadu, reformasi koordinasi kelembagaan, dan intelijen berbasis komunitas. Temuan-temuan ini mendukung revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara dan pengembangan Pusat Fusi Intelijen Maritim Nasional menuju Visi Emas Indonesia 2045.
Copyrights © 2026