Sektor konstruksi dikenal sebagai salah satu sektor kerja dengan tekanan kerja yang tinggi, yang disebabkan oleh kompleksitas pekerjaan, tuntutan penyelesaian dalam waktu singkat, serta kondisi kerja yang dinamis. Situasi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya stres kerja yang berdampak pada kesehatan maupun produktivitas pekerja. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat stres kerja pada pekerja konstruksi serta mengidentifikasi faktor risiko psikososial yang paling dominan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional) terhadap 967 pekerja konstruksi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan uji Chi-square untuk menganalisis hubungan antara karakteristik responden dengan tingkat stres kerja, serta analisis pemeringkatan menggunakan pendekatan nilai rata-rata (mean) dan proporsi untuk mengidentifikasi faktor risiko psikososial dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pekerja berada pada kategori stres sedang (70,6%). Uji Chi-square menunjukkan bahwa usia dan jabatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat stres kerja (p > 0,05). Berdasarkan analisis pemeringkatan, baik pendekatan mean maupun proporsi secara konsisten mengidentifikasi beban kerja kuantitatif, beban kerja kualitatif, dan konflik peran sebagai tiga faktor risiko psikososial paling dominan, meskipun terdapat perbedaan urutan peringkat antar pendekatan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan faktor psikososial, khususnya beban kerja dan kejelasan peran, dalam sistem keselamatan dan kesehatan kerja untuk menurunkan risiko stres kerja pada sektor konstruksi.
Copyrights © 2026