Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Kajian Awal Konsep Inspeksi Keselamatan Radiasi di Fasilitas Industri dan Kesehatan dengan Metode Daring: Studi Kasus Wibowo, Samsu Riza; Widanarko, Baiduri
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.48 KB)

Abstract

Pemanfaatan tenaga nuklir tidak hanya untuk pembangkit energi listrik tetapi juga digunakan di dunia industri, penelitian dan kesehatan. Dalam pemanfaatan tenaga nuklir tersebut diperlukan adanya pengawasan karena selain manfaat yang besar juga mempunyai potensi bahaya radiasi. Pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir salah satunya dengan inspeksi keselamatan radiasi. Dalam pelaksanaan inspeksi keselamatan radiasi masih terdapat kendala terkait dengan ketersediaan jumlah inspektur dan lokasi pengguna sumber radiasi pengion yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kondisi pandemi COVID-19 yang terjadi di awal tahun 2020 memberikan tantangan yang lain dalam pelaksanaan inspeksi. Pelaksanaan inspeksi daring bisa menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut. Metode yang digunakan dalam menyusun penelitian ini yaitu dengan pendekatan studi kasus dengan beberapa tahapan mulai dari tinjauan pustaka, membandingkan dengan inspeksi sejenis dan studi kasus pelaksanaan verifikasi perizinan yang memiliki skema seperti inspeksi keselamatan radiasi serta wawancara dengan para inspektur yang telah melaksanakan inspeksi di fasilitas industri dan kesehatan. Pelaksanaan inspeksi daring di bidang industri dan kesehatan tidak bisa langsung diterapkan pada semua tahapan inspeksi karena disesuaikan dengan tingkat risiko paparan radiasi, rekam jejak inspeksi sebelumnya dan sarana prasarana penunjang daring. Untuk fasilitas dengan risiko rendah dan rekam jejak inspeksi yang baik maka bisa dilakukan inspeksi daring secara penuh sedangkan fasilitas dengan risiko tinggi dilakukan inspeksi dengan metode gabungan antara daring dan onsite. Hasil dari penelitian ini bisa menjadi masukan untuk pembaruan prosedur pelaksanaan inspeksi keselamatan radiasi.
ANALISIS FAKTOR PENCAHAYAAN BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT : SEBUAH TINJAUAN PUSTAKA SISTEMATIS Twinda Adventina; Baiduri Widanarko
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 9, No 1 (2021): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jkm.v9i1.801

Abstract

Kelelahan pada perawat rumah sakit dapat membahayakan keselamatan perawat tersebut maupun pasien. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan kelelahan pada perawat rumah sakit yaitu pencahayaan. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pencahayaan yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada perawat rumah sakit. Metode yang di gunakan adalah systematical review terhadap literatur yang hasil penelitiannya membahas pencahayaan yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada perawat di rumah sakit yang di publikasikan di jurnal internasional, jurnal lokal Berdasarkan seleksi literatur didapatkan 11 literatur membahas pencahayaan berhubungan dengan kelelahan kerja pada perawat rumah sakit. Terdapat hubungan yang signifikan antara pencahayaan dengan kelelahan kerja pada perawat rumah sakit.
ANALISIS KECUKUPAN TIDUR, KUALITAS TIDUR, DAN OLAHRAGA DALAM MEMULIHKAN KELELAHAN AKUT DAN KRONIS PADA PEKERJA MIGAS-X Achmad Dahlan; Baiduri Widanarko
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v6i1.3099

Abstract

Industri migas yang memiliki proses kerja kompleks dan beroperasi 24 jam yang berpotensi menimbulkan kelelahan pada pekerja dan dapat berujung pada kecelakaan kerja besar. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kelelahan dapat diatasi dengan pemulihan kelelahan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecukupan tidur, kualitas tidur, dan olahraga dalam memulihkan kelelahan akut dan kronis pada pekerja Perusahaan Migas-X. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dan metode random sampling. Populasi adalah pekerja perusahaan Migas-X dengan sampel pekerja kantor dan lapangan onshore maupun offshore. Variable bebas yang diteliti adalah kecukupan tidur, kualitas tidur, dan olahraga sedangkan variabel terikat yang diteliti adalah kelelahan akut dan kelelahan kronis. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner standard yaitu Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) dan kuesioner terkait kecukupan tidur, kualitas tidur, serta olahraga yang telah dilakukan uji realibilitas dan validitas. Analisis data menggunakan analisis univariat dan multivariat regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur (P value = 0.000) dan olahraga (P value = 0.000) secara signifikan memulihkan kelelahan akut dengan kualitas tidur (B = -16.5) menjadi faktor yang paling berpengaruh. Sementara itu, kecukupan tidur (P value = 0.035), kualitas tidur (P value = 0.000), dan olahraga (P value = 0.000) secara signifikan memulihkan kelelahan kronis dengan kualitas tidur (B=-19.25) menjadi faktor yang paling berpengaruh. Dengan demikian, kualitas tidur adalah faktor yang paling dominan dan signifikan dalam memulihkan kelelahan akut maupun kelelahan kronis.
FAKTOR RISIKO GANGGUAN OTOT DAN TULANG RANGKA AKIBAT KERJA PADA DOKTER GIGI: STUDI PUSTAKA Reni Jayantini; Baiduri Widanarko
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v6i1.3643

Abstract

Dokter gigi dalam melakukan perawatan gigi dan mulut memerlukan prosedur yang dilakukan dengan tingkat presisi tinggi di ruang yang relatif terbatas, sehingga berisiko menimbulkan gangguan otot dan tulang rangka akibat kerja (gotrak). Etiologi gotrak bersifat multifaktorial diantaranya karakteristik individu, faktor fisik, dan faktor psikososial di tempat kerja. Penelitian ini merupakan studi pustaka yang bertujuan untuk menganalisis faktor risiko gotrak pada dokter gigi. Pencarian literatur dalam penelitian ini mengumpulkan data sekunder yang berasal dari jurnal internasional terbit di antara tahun 2015 hingga 2021. Jurnal diperoleh dari perpustakaan digital Scopus, EBSCOhost, dan Science Direct. Didapatkan satu artikel dengan desain penelitian kohort dan empat belas artikel dengan desain potong lintang. Berdasarkan penelitian, didapatkan faktor risiko gotrak pada dokter gigi yaitu faktor individu meliputi usia, jenis kelamin, dan riwayat kesehatan terdahulu; faktor fisik meliputi getaran yang dihasilkan dari dental instrument, postur statis dan postur janggal saat melakukan perawatan kepada pasien; dan faktor psikososial meliputi kondisi lingkungan kerja, lama kerja, dan hubungan antar rekan kerja. Hasil studi ini menunjukan bahwa berbagai faktor risiko tersebut memiliki hubungan yang signifikan terhadap gotrak.
Analisis prevalensi dan faktor pekerjaan terhadap terjadinya gangguan otot tulang rangka akibat kerja pada pekerja perancah di PT X Dhani Rinaldi Ardiansyah; Baiduri Widanarko
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 5 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v5i2.1911

Abstract

Perancah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu pekerjaan konstruksi, Pekerjaan perancah berkontribusi pada munculnya faktor risiko gangguan otot tulang rangka akibat kerja (GOTRAK) atau musculoskeletal disorders (MSDs). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko terjadinya gotrak pekerja perancah di PT X. Jenis penelitian adalah potong lintang dengan responden pekerja perancah di PT X sebanyak 157 karyawan dengan analisis data menggunakan metode uji chi square. Responden memberikan informasi karakteristik pekerjaan (menggunakan Rapid Entire Body Assesment atau REBA), keluhan gotrak menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Penelitian ini menghasilkan 3 prevalensi keluhan tertinggi pada pekerja yaitu leher 86,4%, bahu 82,7% dan tangan/pergelangan 77,8%. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor risiko terjadinya gotrak pekerja perancah di PT X yaitu jenis pekerjaan OR 8,771 (95% CI 3,934-19,552), Skor REBA OR 2,81 (95% CI 1,39-5,67). Penyesuaian pekerjaan terutama untuk menurunkan skor REBA tinggi pada pekerja dengan cara meminimalkan postur janggal, menyediakan gerobak untuk mengangkut material dan kerekan mekanis.
ANALISIS FAKTOR PSIKOSOSIAL TERHADAP GANGGUAN OTOT TULANG RANGKA AKIBAT KERJA: A LITERATURE REVIEW Melly Fadhilah Harahap; Baiduri Widanarko
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 5 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v5i2.1975

Abstract

ABSTRAK Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa faktor risiko individu dan fisik mempengaruhi gangguan otot rangka akibat kerja (gotrak), namun hanya sedikit penelitian yang berfokus pada faktor risiko psikososial. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk menganalisis faktor risiko psikososial terhadap terjadinya gotrak pada pekerja. Pencarian literatur dalam penelitian ini mengumpulkan data sekunder yang berasal dari artikel pada jurnal nasional dan internasional yang telah diterbitkan antara tahun 2018 hingga 2020 yang diperoleh dari search engine “google scholar”. Hasil yang didapatkan sebanyak 1779 artikel pada jurnal nasional dan internasional kemudian disaring berdasarkan kesesuaian judul, abstrak, isi dan kriteria inklusi sehingga diperoleh sebanyak enam belas artikel (satu artikel pada jurnal nasional dan lima belas artikel pada jurnal internasional). Sebanyak enam belas artikel tersebut dianalisis dan diproses melalui tahapan organize, synthesize, identify, dan analisis lanjut untuk menemukan jawaban dari perumusan masalah. Dari enam belas artikel yang dianalisis, terdapat dua artikel dengan desain penelitian kohort dan empat belas artikel dengan desain potong lintang. Seluruh artikel menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara faktor psikososial dengan gotrak, namun hal ini tergantung variabel psikososial yang diteliti. Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor psikososial terhadap kurangnya kepuasan kerja, kurangnya kontrol kerja, gaji yang tidak memadai, kurangnya penghargaan, stres kerja, gangguan tidur, tuntutan kerja harus cepat selesai, kerja yang monoton dan konflik keluarga terhadap terjadinya gotrak. Namun belum ada penelitian yang menjelaskan adanya hubungan yang signifikan antara hubungan interpersonal dengan rekan kerja/atasan, dukungan rekan kerja, keputusan yang bertentangan dan komitmen berlebih di tempat kerja terhadap terjadinya gotrak.
Association between Individual, Physical, and Organisational Risk Factors and Low Back Symptoms Among Karawang Industrial-Indonesia Manufacturing Workers Noviaji Joko Priono; Baiduri Widanarko
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 2 (2022): Budapest International Research and Critics Institute May
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i2.5383

Abstract

Individual and physical risk factors are reported to increase the risk of low back symptoms (LBS) among workers. This study aimed to identify the association between individual, organisational, and physical risk factors and the occurrence of subjective complaints in LBS among Karawang Industrial-Indonesia manufacturing workers.  This preliminary study was cross-sectional. Data in October 2018 were gathered via an online survey using a self-administered questionnaire in 204 workers.  The prevalence of LBS was 75.9%. Some risk factors were associated with LBS such as males (OR 4.82, 95% CI 2.26–10.26), overweight (OR 3.54, 95% CI 1.46–8.58), smokers (OR 2.07, 95% CI 1.07–3.99), and regular exercise during the last 30 days (OR 0.19, 95% CI 0.08–0.40), compared with females, normal weight, non-smokers, and never engaged in regular exercise, respectively. Lifting heavy load (>20 kg) also showed a significant association with LBS (OR 3.97, 95% CI 1.59–9.94).  Interventions aimed at reducing LBS limit the lifting activity, particularly with objects >30 kg, with a focus on smokers, and overweight workers also never engaged in regular exercise. Meanwhile workers also must improve exercise habit.
Analisis Tingkat Kematangan Budaya Keselamatan Kerja Pada Perusahaan Manufaktur Konstruksi PT XYZ Tahun 2022 Ari Omar Mochtar; Baiduri Widanarko
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.8657

Abstract

Menurut perkiraan International Labour Organization (ILO), di tingkat global lebih dari 2,78 juta orang meninggal per tahun akibat kecelakaan kerja atau penyakit terkait pekerjaan. Berdasarkan data yang dirilis oleh BPJS, kecelakan kerja di konstruksi meningkat dari 114.000 di tahun 2019 menjadi 177.000 kecelakaan ditahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan budaya keselamatan pada pekerja konstruksi di PT. XYZ. Penelitian deskriptif ini bersifat semi kuantitatif. Data yang dikumpulkan dari hasil focus group dicussion, kuesioner, telaah dokumen dan observasi kemudian dilakukan analisis secara mendalam. Terdapat 19 variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil pengukuran tingkat kematangan budaya keselamatan didapatkan PT. XYZ berada di tingkat calculative dengan mayoritas variabel berada pada tingkat calculative kecuali variabel penghargaan K3L, pelatihan dan kompentensi, penerapan dan penggunaan standar berada pada tingkat reactive. Tingkat kematangan budaya keselamatan PT. XYZ yang berada pada ditingkat calculative menunjukkan perusahaan ini berada pada titik awal dalam menuju budaya selamat.
ANALISIS KEBIJAKAN DOKUMEN RKK PENAWARAN PADA PT X DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INTERNATIONAL SUSTAINABILITY RATING SYSTEMS (ISRS) SEBAGAI MENINGKATKAN KINERJA KESELAMATANKONSTRUKSI SUBCONTRACTOR Sandhy Cahyadi; Baiduri Widanarko; Rossy Armyn Machfudiyanto
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 3 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v6i3.8540

Abstract

The root causes of most industrial accidents have been linked to process safety issues ranging from poor safety culture, lack of communication, asset integrity issues, lack of management leadership and human factors as well as inappropriate policies. This accident can be prevented with adequate application of process safety management (PSM). The process of selecting a Subcontractor, who will be appointed in a job, is the first step to run a company system as prevention, supervision, implementation and quality improvement in a job. In this research conducted by Delphi. This research was conducted from February 2022 to June 2022. Data collection techniques were through direct observation and review of company documents guided by RKK offers which will be analyzed according to the guidelines of the International Sustainable Rating System (ISRS). Another goal is that if this policy document is carried out in a more appropriate manner, then it is certain that it can improve the diving performance of subcontractor construction and from the government side so that the Ministry of Public Works and Public Housing can form an assessor team during the initial vendor selection inspection, and further develop the points which can cover to ensure that the subcontractor or vendor has carried out document policies in accordance with the rules of the applicable International Sustainability Rating System (ISRS). And for the company to be able to display an increase in construction safety performance.
EFEK KESEHATAN PSIKOLOGIS, FISIK, PEKERJAAN, DAN DEMOGRAFIS TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PEKERJA: KAJIAN LITERATUR SISTEMATIS Nadya Karina; Baiduri Widanarko
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 1 (2023): APRIL 2023
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v7i1.13457

Abstract

Kesejahteraan psikologis pekerja memiliki implikasi penting baik di tempat kerja maupun aspek lain dari kehidupan pekerja. Kesejahteraan psikologis pekerja akan berdampak pada hasil kerja, kesuksesan, kinerja dan produktivitas organisasi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor – faktor yang berperan penting dalam menentukan kesejahteraan psikologis pekerja profesional. Penelitian ini menggunakan  metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengakses online database dari Scopus, ScienceDirect, ProQuest, dan GooggelCendekia, dan menggunakan kata kunci yang berbeda, yaitu “factors affecting professional worker well being” “DAN”, “ATAU”  “professional worker well being”,  “DAN”, “ATAU”  “worker well being”. Selanjutnya, sebanyak  159 didapat dari Scopus, 19.577 dari ScienceDirect, 51.685 dari ProQuest dan 17.800 artikel diperoleh dari GoogleCendikia, dengan total 89.221. Kriteria inklusi pada makalah yang diterbitkan antara Tahun 2013 dan 2023, relevansi judul dan abstrak, menggunakan semua jenis penelitian, baik deskriptif kualitatif, maupun kuantitatif., serta ketersediaan teks lengkap. Artikel yang tidak lengkap dan tidak relevan dengan topik kemudian dikeluarkan, setelah itu total sepuluh jurnal dipilih untuk analisis dengan menggunakan Model PICO (Problem, Intervention, Comparison, Outcome). Kesejahteraan psikologis pekerja dipengaruhi oleh faktor kesehatan psikologis, yaitu mindfulness, perilaku kognitif, gangguan mood, stres, depresi, kecemasan, strategi koping, makna hidup, dan ketahanan untuk meningkatkan kualitas kehidupan kerja. Faktor kesehatan fisik meliputi obesitas, komorbiditas fisik, kelelahan, gejala muskuloskeletal, kesehatan kerja. Faktor pekerjaan adalah kondisi kerja fisik, keselamatan kerja dan kesehatan kerja, beban pekerjaan, otonomi pekerjaan, sumber daya pekerjaan, kelas pekerjaan, tuntutan pekerjaan (beban kerja dan tekanan waktu) dan sumber daya pekerjaan (otonomi dan dukungan sosial). Faktor demografis meliputi sosiodemografi seperti umur, tipe pekerjaan, status perkawinan, wilayah kerja, dan sosial ekonomi. Faktor utama yang mempengaruhi kesejahteraaan psikologis pekerja profesional meliputi dimensi kesehatan psikologis, kesehatan  fisik, dimensi pekerjaan, dan sosiodemografis.