Transformasi lanskap ketenagakerjaan global pasca-pandemi telah memicu pergeseran masif menuju model kerja hibrida (hybrid work), namun adopsi ini sering kali tidak dibarengi dengan kesiapan kebijakan organisasi yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika hybrid work dan implikasinya terhadap employee engagement serta organizational commitment dengan mengintegrasikan kerangka Job Demands-Resources (JD-R), social exchange theory, dan person-environment fit. Menggunakan metode tinjauan literatur sistematis dan analisis naratif terhadap artikel bereputasi internasional, studi ini menemukan bahwa hybrid work berfungsi sebagai pedang bermata dua (double-edged sword). Di satu sisi, otonomi spasial dan fleksibilitas bertindak sebagai sumber daya motivasional yang meningkatkan vigor dan absorption. Di sisi lain, tuntutan seperti technostress, isolasi sosial, dan kaburnya batas kerja berisiko menurunkan dedication serta affective commitment. Hasil sintesis menegaskan bahwa keberhasilan model hibrida sangat bergantung pada kualitas boundary management, dukungan organisasi, dan pergeseran menuju manajemen berbasis hasil. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan manajerial yang adaptif untuk memastikan keterikatan karyawan tetap terjaga di tengah disrupsi digital.
Copyrights © 2026