Abstrak: Kitab Ayub menghadirkan kisah penderitaan seorang tokoh saleh yang tetap setia kepada Allah, namun di balik figur utama tersebut tersembunyi sosok istri Ayub yang dalam berbagai tafsir biblika maupun kajian literatur kerap ditempatkan di pinggiran narasi. Ucapannya, “Kutukilah Allahmu dan matilah” (Ayub 2:9), sering dimaknai sebagai wujud ketidaksetiaan, padahal teks secara implisit juga merekam penderitaannya yang tidak kalah mendalam, yakni kehilangan anak, harta, dan harapan masa depan, terutama dalam kerangka budaya patriarki Timur Dekat Kuno yang membatasi ruang eksistensial perempuan. Penelitian ini berupaya merehabilitasi suara istri Ayub dengan menempatkannya sebagai bagian integral dari narasi penderitaan, bukan semata-mata sebagai penggoda iman, melainkan sebagai pribadi yang turut menanggung trauma eksistensial. Melalui pendekatan tafsir biblika yang dipadukan dengan refleksi pastoral-trauma, kajian ini mengungkap bahwa jeritan istri Ayub dapat dipahami sebagai tangisan iman yang lahir dari keterpurukan manusiawi dan sekaligus sebagai bentuk protes eksistensial terhadap realitas yang tidak tertanggungkan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan urgensi membaca teks Kitab Ayub secara empatik, kritis, dan holistik, sehingga membuka kemungkinan refleksi pastoral yang menekankan pengakuan, pendampingan, serta pemulihan bagi mereka yang menderita.Kata kunci: Ayub, Istri Ayub, Penderitaan, Trauma, Pastoral, Biblika, Patriarki
Copyrights © 2026