Fenomena keterlambatan bicara (speech delay) pada anak usia 2-4 tahun kini sering dipicu oleh paparan konten digital pasif yang bersifat instruksi satu arah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus anak yang mengalami hambatan komunikasi verbal akibat pola asuh "bisu" digital, di mana interaksi sosial tergantikan oleh layar. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas intervensi metode talk-back dalam memulihkan kemampuan bicara anak. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis & McTaggart yang meliputi tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi dalam beberapa siklus. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kosakata yang signifikan sebesar 40% pada subjek penelitian setelah dilakukan pelarangan total terhadap penggunaan instruksi satu arah dari video dan menggantinya dengan stimulus timbal balik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode talk-back efektif dalam menstimulasi kemampuan linguistik anak dengan cara mengembalikan fungsi komunikasi sebagai proses dua arah. Implikasinya, orang tua dan pendidik perlu membatasi konsumsi media digital pasif dan mengedepankan dialog interaktif untuk mengatasi hambatan perkembangan bahasa pada fase toddler.
Copyrights © 2026