Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif pengaruh kualitas audit, kompleksitas operasi, dan kepemilikan institusional terhadap praktik manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2020-2024. Periode ini dipilih secara strategis untuk menangkap dinamika pelaporan keuangan mulai dari masa krisis pandemi COVID-19 hingga fase pemulihan ekonomi pasca-pandemi, yang memberikan tekanan unik pada insentif manajerial. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari laporan tahunan, penelitian ini menguji sampel purposive yang terdiri dari perusahaan-perusahaan manufaktur utama seperti Astra International, Indofood, dan Unilever, menghasilkan total observasi yang valid untuk analisis regresi. Variabel dependen manajemen laba diukur menggunakan Discretionary Accruals dengan model Modified Jones, yang dianggap paling robust dalam memisahkan akrual diskresioner dan non-diskresioner. Hasil penelitian menunjukkan bukti empiris bahwa kualitas audit, yang diproksikan dengan ukuran KAP (Big Four vs Non-Big Four), memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba, menegaskan peran auditor berkualitas tinggi dalam memitigasi asimetri informasi. Sebaliknya, kompleksitas operasi, yang diukur dengan jumlah anak perusahaan, ditemukan berpengaruh positif terhadap manajemen laba, mengindikasikan bahwa struktur konglomerasi yang rumit memberikan celah bagi manajer untuk melakukan rekayasa akuntansi. Kepemilikan institusional menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan, mendukung hipotesis pemantauan aktif (active monitoring hypothesis) di mana investor institusi berperan efektif dalam tata kelola perusahaan. Temuan ini memberikan implikasi kebijakan bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan investor mengenai pentingnya memperkuat mekanisme pengawasan eksternal dan transparansi struktur grup perusahaan di pasar modal negara berkembang.
Copyrights © 2026