Fenomena pungutan liar (pungli) di destinasi wisata merupakan persoalan sosial yang tidak hanya berdampak pada citra pariwisata, tetapi juga mencerminkan dinamika komunikasi antara pengelola, masyarakat lokal, wisatawan, dan pemerintah. Pantai Koka Maumere sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Sikka tidak terlepas dari praktik pungutan liar yang memicu beragam respons publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika komunikasi publik dalam fenomena pungutan liar di destinasi wisata Pantai Koka Maumere, dengan menelaah pola interaksi, persepsi, serta alur komunikasi antaraktor yang terlibat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan masyarakat lokal, wisatawan, pengelola wisata, serta aparat pemerintah terkait, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pungutan liar muncul akibat lemahnya komunikasi kebijakan, kurangnya sosialisasi aturan resmi, serta perbedaan pemahaman antara masyarakat lokal dan wisatawan mengenai sistem pengelolaan wisata. Dinamika komunikasi publik ditandai oleh komunikasi informal, penyampaian informasi yang tidak terstruktur, serta minimnya ruang dialog partisipatif antara pemangku kepentingan. Kondisi ini memicu kesalahpahaman, konflik laten, dan menurunnya kepercayaan publik terhadap pengelolaan destinasi wisata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan komunikasi publik yang transparan, partisipatif, dan berbasis kearifan lokal menjadi kunci dalam menekan praktik pungutan liar serta membangun tata kelola pariwisata yang berkelanjutan di Pantai Koka Maumere.
Copyrights © 2026