Burnout akademik pada mahasiswa selama ini umumnya dipahami sebagai persoalan individual yang berkaitan dengan ketidakmampuan mengelola tekanan akademik. Namun, pendekatan tersebut kurang memperhatikan bagaimana konteks sosial, khususnya organisasi mahasiswa, turut membentuk dan mempertahankan pengalaman kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana budaya keaktifan dalam organisasi mahasiswa mereproduksi dan menormalisasi kelelahan akademik sebagai bentuk disiplin simbolik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus pada Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dengan delapan informan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña dengan perspektif praktik sosial Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya keaktifan memproduksi keterlibatan sebagai standar legitimasi yang diinternalisasi menjadi habitus. Kesibukan berfungsi sebagai kapital simbolik, sementara tekanan teman sebaya menjadi mekanisme kontrol implisit. Kelelahan kemudian dimaknai sebagai komitmen moral dan dinormalisasi dalam praktik organisasi. Dengan demikian, burnout akademik tidak hanya merupakan kondisi psikologis, tetapi merupakan hasil dari mekanisme sosial yang bekerja melalui relasi antara arena, habitus, dan kapital simbolik. Penelitian ini menunjukkan bahwa normalisasi kelelahan akademik merupakan bentuk disiplin simbolik dalam budaya organisasi mahasiswa, yang mendorong individu untuk terus terlibat tanpa paksaan langsung.
Copyrights © 2026