Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dengan lebih dari 17.000 pulau menjadikan transportasi laut dan penyeberangan sebagai urat nadi mobilitas masyarakat dan penghubung antarwilayah. Dalam konteks ini, arus mudik dan arus balik Idulfitri menjadi fenomena transportasi yang signifikan, tidak hanya mencerminkan perpindahan fisik, tetapi juga nilai sosial, budaya, dan emosional seperti silaturahmi dan kebersamaan. Namun, lonjakan penumpang dalam waktu singkat menimbulkan tantangan pelayanan publik, seperti kepadatan, keterbatasan kapasitas, antrean panjang, serta risiko keselamatan dan keamanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai-nilai nasionalisme dalam pelayanan publik arus mudik dan arus balik di Pelabuhan Penyeberangan Baubau. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasionalisme tercermin dalam pelayanan yang humanis, profesional, dan berorientasi pada keselamatan. Kolaborasi antarinstansi serta partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran pelayanan. Meskipun demikian, masih terdapat kendala seperti keterbatasan infrastruktur dan kedisiplinan sebagian pengguna, sehingga diperlukan peningkatan kapasitas layanan, kompetensi aparatur, serta edukasi masyarakat. Kata kunci: Arus Mudik dan Arus Balik, Nasionalisme, Pelayanan Publik, Pelabuhan Penyeberangan Transportasi
Copyrights © 2026