Meskipun bank sampah di DIY sudah memberikan kontribusi positif, mereka masih menghadapi tantangan signifikan, terutama dalam efektivitas operasional bank sampah yang kerap terkendala oleh minimnya dukungan finansial dari pemerintah. tujuan dari peneltian ini untuk menganalisis kebijakan yang mempengaruhi operasional bank sampah di DIY dan mengembangkan model kolaboratif governance yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Data primer didapatkan peneliti dari wawancara dan observasi secara langsung, sedangkan data sekunder didapatkan melalui artikel ilmiah, buku, karya tulisan dan vidio wawancara di Youtube yang valid dan relevan dengan topik penulisan. Penelitian ini menemukan bahwa pengelolaan sampah di Yogyakarta terhambat oleh kurangnya dukungan finansial operasional bagi bank sampah akibat regulasi, rendahnya partisipasi masyarakat dalam memilah sampah, dan minimnya kolaborasi antara pemerintah dan bank sampah. Model Collaborative Governance direkomendasikan untuk meningkatkan efektivitas dan peran bank sampah dalam ekonomi sirkular. Pengelolaan sampah di DIY memerlukan dukungan operasional lebih dari pemerintah, karena regulasi saat ini hanya mengizinkan dana sebagai modal. Collaborative Governance yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dapat meningkatkan efektivitas bank sampah. Revisi kebijakan diperlukan agar bank sampah dapat memperoleh dukungan publik berkelanjutan dan lebih efektif dalam menangani sampah.
Copyrights © 2026