Dakwah Islam perlu dipahami bukan hanya sebagai penyampaian ajaran Islam, tetapi sebagai proses membimbing manusia untuk memahami makna iman, memperbaiki akhlak, dan membangun kehidupan sosial yang lebih adil. Di tengah masyarakat yang semakin beragam, derasnya arus informasi, dan seringnya terjadi polarisasi di ruang publik, dakwah dituntut lebih jernih, bernalar, dan tetap berpegang pada nilai. Pendekatan filsafat membantu dai melihat dakwah dari tiga sisi penting: hakikat dakwah itu sendiri (ontologi), dasar pengetahuan yang dipakai dalam menyampaikan pesan (epistemologi), serta tujuan dan nilai kebaikan yang ingin diwujudkan (aksiologi). Penelitian ini disusun melalui telaah literatur dari Google Scholar dan repositori institusi, lalu dianalisis secara kualitatif dan dirangkum tematik. Hasilnya menunjukkan: (1) tauhid menyatukan dimensi iman dan kehidupan sosial, sehingga dakwah diarahkan pada pembentukan moral dan keadilan sosial; (2) cara berilmu dalam dakwah perlu menggabungkan wahyu, akal, pengalaman, dan intuisi spiritual—dengan pendekatan bayÄnÄ«, burhÄnÄ«, dan ‘irfÄnī—agar tetap setia pada nash sekaligus peka pada fakta; (3) maqÄá¹£id al-syarī‘ah menjadi kompas nilai yang bisa diterjemahkan menjadi indikator kemaslahatan moral-sosial. Kerangka ini diperkaya dengan penilaian manfaat nyata (pragmatisme), pembentukan karakter (etika kebajikan), dan komunikasi dialogis yang menghargai martabat pendengar. Implementasi dakwah dengan pendekatan filosofis dengan jalan: berpikir kritis, dialog yang logis dan santun, etika komunikasi, pengelolaan perbedaan tafsir, pembedaan prinsip normatif dan kebutuhan konteks, pemetaan asumsi audiens, ketelitian bahasa, pemanfaatan media digital secara bijak, serta evaluasi berbasis perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku.
Copyrights © 2025