Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin memudarnya pemahaman masyarakat terhadap dimensi sakral dalam kesenian Bantengan akibat pengaruh modernisasi dan komersialisasi yang menggeser fungsi kesenian dari yang semula sarat makna menjadi sekadar tontonan. Kondisi tersebut menimbulkan kesenjangan antara nilai simbolik yang terkandung dalam setiap unsur pertunjukan dengan praktik yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam makna simbolik serta mengungkap sakralitas ritual trance (kesurupan) dalam kesenian Bantengan di Desa Claket, Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap fenomena budaya yang diteliti. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci, observasi lapangan, dokumentasi, serta studi pustaka yang relevan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan menerapkan teknik triangulasi guna menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Bantengan di Desa Claket merupakan sistem budaya yang kompleks yang memadukan dimensi simbolik, sakral, dan spiritual-komunal. Makna simbolik tercermin dalam berbagai elemen pertunjukan, seperti kepala banteng yang melambangkan kekuatan dan keberanian, macan sebagai representasi tantangan, serta pecut sebagai simbol kendali spiritual. Sementara itu, sakralitas ritual trance tampak dalam rangkaian tahapan ritual yang terstruktur, mulai dari pembukaan hingga penutupan, yang berfungsi sebagai media komunikasi antara manusia dengan kekuatan spiritual. Dengan demikian, kesenian Bantengan tidak hanya berperan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana ekspresi spiritual dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Copyrights © 2026