Sistem alokasi sumber daya berbasis web menghadapi tantangan konkurensi kritis di mana permintaan simultan bervolume tinggi sering kali menghasilkan anomali data, khususnya double booking. Meskipun batasan teoretis dari kondisi perlombaan Time-of-Check to Time-of-Use (TOCTOU) telah didokumentasikan, efek majemuk latensi jaringan dalam arsitektur terdistribusi dan implikasi performa empiris dari pendelegasian kendali murni pada konstrain basis data masih jarang dieksplorasi. Penelitian ini mengukur kinerja dan integritas data untuk menentukan desain arsitektur mana yang mampu mempertahankan throughput tinggi sekaligus menjaga konsistensi data. Penelitian ini melakukan evaluasi load-testing komprehensif melalui studi ablasi terhadap tiga arsitektur: Application-Level Control (ALC), Database-Level Constraint (DLC) menggunakan EXCLUDE USING GIST pada PostgreSQL, dan arsitektur Hibrid. Di bawah tekanan pengguna virtual ekstrem, ALC terbukti rentan terhadap kebocoran data, di mana latensi jaringan terdistribusi memperburuk insiden double booking hingga 125% dibandingkan server monolitik. Sebaliknya, meskipun DLC menjamin integritas data absolut, pendekatan ini memicu degradasi throughput yang katastrofik anjlok hingga 18,1 RPS pada beban puncak yang disertai penalti latensi berat akibat penguncian eksklusif tingkat indeks dan kelaparan pangkalan koneksi (connection pool starvation). Arsitektur Hibrid memecahkan dikotomi ini dengan memadukan penyaring tingkat aplikasi asinkron sebagai penyerap kejut untuk mengurai kemacetan basis data, sukses mencapai integritas absolut sekaligus mempertahankan throughput tinggi (543,7 RPS). Penelitian ini mengkuantifikasi batas skalabilitas konstrain basis data dan memberikan kerangka kerja rekayasa defense-in-depth yang tangguh untuk sistem ketersediaan tinggi.
Copyrights © 2026