Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberagaman agama di Sekolah Xaverius Bukittinggi yang mempertemukan siswa Muslim dan non-Muslim dalam satu lingkungan pendidikan. Perbedaan latar belakang keagamaan tersebut berpotensi menimbulkan jarak sosial apabila tidak diimbangi dengan pola komunikasi yang efektif. Namun demikian, sekolah juga memiliki peran penting sebagai ruang pembelajaran sosial dalam menanamkan nilai toleransi, kerja sama, dan sikap saling menghargai. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola komunikasi yang terjalin antara siswa Muslim dan non-Muslim serta bagaimana pola tersebut membentuk relasi sosial yang harmonis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di lingkungan sekolah, wawancara dengan guru dan siswa sebagai informan utama, serta dokumentasi yang relevan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data secara sistematis, dan penarikan kesimpulan berdasarkan temuan di lapangan, sehingga diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai pola komunikasi dan dampaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi antarsiswa berlangsung secara terbuka, inklusif, dan penuh toleransi. Interaksi sosial tercermin dalam kerja sama kegiatan akademik, penghormatan terhadap praktik keagamaan, serta kedekatan emosional melalui kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu, dukungan guru dan kebijakan sekolah turut memperkuat terciptanya komunikasi yang harmonis dan minim konflik. Pola komunikasi ini berdampak positif dalam membangun relasi sosial yang saling menghargai, memperkuat sikap toleransi, serta menciptakan lingkungan sekolah yang rukun dan kondusif di tengah keberagaman agama.
Copyrights © 2026