Agrowisata menghubungkan sektor pertanian dengan pariwisata untuk meningkatkan nilai ekonomi, memperluas kesempatan kerja, dan mendorong pelestarian lingkungan. Kebun Belimbing Pak Sugiman merupakan contoh agrowisata berbasis masyarakat yang berkembang secara mandiri di Desa Manunggal Jaya. Meskipun memiliki potensi besar, lokasi ini menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal, seperti promosi yang terbatas, keterbatasan manajemen, serta persaingan dengan destinasi lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal serta merumuskan strategi pengembangan yang tepat serta berkelanjutan untuk Kebun Belimbing Pak Sugiman. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan matriks IFE dan EFE yang dilanjutkan dengan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan total IFE = 2,60 dan EFE = 2,87 dengan koordinat SWOT (1,63; 2,03) yang berada pada Kuadran I (strategi agresif). Oleh karena itu, strategi pengembangan difokuskan pada pemanfaatan kekuatan dan peluang untuk mencapai pertumbuhan. Rekomendasi utama meliputi penguatan promosi digital melalui media sosial berbasis keunggulan konsep wisata edukasi dan harga yang terjangkau, pengembangan paket wisata edukatif terpadu, peningkatan kualitas layanan melalui pelatihan dan perbaikan sarana, serta perluasan kerja sama dengan UMKM, lembaga pendidikan, dan instansi pemerintah guna mewujudkan agrowisata yang berkelanjutan dan inklusif. Membangun kemitraan dengan lembaga pendidikan formal dan non-formal, guna memperkuat posisi agrowisata sebagai destinasi edukatif yng mendukung program pembelajaran luar kelas (S3, O3).Memanfaatkan lokasi yang mudah dijangkau dan ketersediaan buah belimbing segar sebagai daya saing utama, didukung oleh program pemberdayaan dan promosi dari instansi terkait untuk memperluas segmentasi pasarKata kunci: agrowisata; belimbing; strategi pengembangan; IFE; EFE; SWOT
Copyrights © 2026