Peningkatan efisiensi irigasi merupakan bagian penting dari strategi Indonesia untuk mencapai swasembada beras yang berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional. Namun, dampak nyata dari rehabilitasi jaringan irigasi tersier (JIT) belum banyak terkuantifikasi secara empiris. Penelitian ini mengevaluasi program tersebut pada tingkat provinsi dengan menggunakan data panel selama satu dekade (2013–2023) dan kerangka metodologi yang mengintegrasikan Fixed Effects Model (FEM) dengan Generalized Propensity Score Matching (GPSM) untuk mengatasi bias seleksi pada perlakuan kontinu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rehabilitasi JIT berpengaruh positif secara signifikan terhadap produktivitas padi. Meskipun demikian, efektivitas program rehabilitasi JIT bervariasi antarwilayah. Provinsi dengan dukungan input pelengkap yang lebih kuat, ketersediaan tenaga kerja yang memadai, tingkat mekanisasi yang lebih baik, pembangunan embung, serta akses terhadap kredit pertanian mengalami peningkatan produktivitas yang lebih besar, sedangkan wilayah dengan keterbatasan sumber daya menunjukkan dampak yang lebih terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa rehabilitasi JIT bukan merupakan instrumen kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan upaya yang memberikan hasil tertinggi ketika diintegrasikan dengan program pembangunan pertanian yang lain. Penelitian ini memberikan bukti empiris untuk memandu prioritas investasi rehabilitasi, menyesuaikannya dengan kesiapan regional, serta merancang intervensi adaptif dan kontekstual yang dapat mempercepat kemajuan Indonesia menuju sistem produksi padi yang tangguh serta mendukung visi nasional sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045.
Copyrights © 2026