Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penetrasi media sosial ke dalam komunitas adat, termasuk perempuan Suku Badui Luar, yang selama ini hidup dalam sistem nilai dan aturan budaya yang ketat. Kondisi tersebut memunculkan fenomena pergulatan identitas antara nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun dengan tuntutan serta daya tarik budaya digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pergulatan identitas yang dialami perempuan Badui Luar dalam menghadapi arus media sosial serta kendala yang menyertainya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode etnografi realis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap perempuan Badui Luar serta perangkat desa. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan teknik triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Badui Luar melakukan negosiasi identitas melalui akulturasi selektif, yaitu mengadopsi media sosial secara terbatas untuk kepentingan ekonomi dan ekspresi diri, namun tetap mempertahankan nilai inti adat Pikukuh. Media sosial berfungsi sebagai ruang baru negosiasi identitas yang mempertemukan tradisi dan modernitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pergulatan identitas perempuan Badui Luar bukan bentuk penolakan budaya, melainkan strategi adaptif dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah perubahan sosial digital.
Copyrights © 2026