Tulisan ini bertujuan untuk untuk mengeksplorasi nilai kearifan lokal sulapa eppa sebagai strategi kultural pada pendidikan sejarah untuk menciptakan sekolah ramah terhadap lingkungan sosial dan mencegah perilaku perundungan di Kota Makassar. Fenomena kekerasan di sekolah dan perundungan yang marak terjadi menunjukkan adanya diskoneksi antara identitas budaya luhur dengan prilaku sosial murid di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dengan melalukan observasi partisipatif dan wawancara mendalam di SMAN 23 Makassar untuk memahami nilai-nilai sejarah yang diinternalisasikan dalam interaksi keseharian murid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi pilar sulapa eppa yang meliputi acca (cerdas), lempu (jujur), warani (berani), getteng(tegas) dapat menjadi energi positif bagi murid. Implementasi terhadap etika sosial seperti sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghargai), dan sipakainge (saling mengingatkan) terbukti mampu meningkatkan empati dan kesadaran murid. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa kearifan lokal seperti acca, lempu, warani, dan getting efektif sebagai instrument rekayasa sosial dalam membangun ekosistem Pendidikan yang inklusif dan harmonis.
Copyrights © 2026