Latar Belakang: Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual merupakan suatu proses pemberian informasi yang komprehensif dan terstruktur mengenai perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Informasi yang diberikan pada masa anak cenderung lebih mudah dipahami, diingat, dan tertanam dalam jangka panjang. Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia pada tahun 2025 masih menunjukkan angka yang memprihatinkan dan menjadi isu serius dalam perlindungan anak. Masalah pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual masih dianggap tabu dikalangan masyarakat dan dibicarakan di depan anak-anak apalagi untuk mengajarkannya kepada anak (Fantaye et al., 2020). Perlu adanya kerjasama yang baik antara ibu dan ayah untuk dapat berkomunikasi dengan baik terhadap anak mengenai pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual. Hambatan yang dihadapi ayah dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual pada anak merupakan fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari aspek individu, sosial, maupun budaya. Tujuan: untuk mengetahui hambatan ayah dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual pada anak di Kecamatan Pengkadan. Metode: menggunakan pendekatan kualitatifdengan teknik purposive sampling dalam pemilihan sampel. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview), dan analisis data menggunakan data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Hasil: hambatan dalam memberikan pendidikan reproduksi dan seksual pada anak ditemukan 2 kategori temuan yaitu hambatan internal dan hambatan eksternal. Kesimpulan: Hambatan internal yang dirasakan ayah dari segi penyampaian pada anak dari penyesuaian bahasan serta bentuk cara penyampaiannya, kemudian hambatan eksternal berupa jenis kelamin dan umur anak, menganggap pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual merupakan hal yang sensitif, perubahan zaman dan tabu.
Copyrights © 2026