Museum Blambangan merupakan destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan sejarah dan budaya Banyuwangi, khususnya kepada Generasi Z. Sebagai salah satu destinasi wisata edukasi, Museum Blambangan berupaya mengemas pembelajaran sejarah secara menarik untuk meningkatkan minat dan partisipasi pengunjung Generasi Z. Namun, banyak Generasi Z menganggap museum sebagai tempat yang membosankan dan lebih berfokus pada dokumentasi visual daripada memahami sejarah dan budaya selama kunjungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan komunikasi Guide Museum Blambangan Banyuwangi dalam Menerapkan Strategi Komunikasi Persuasif untuk mengoptimalkan wisata edukasi terutama bagi Generasi Z. Pada penelitian ini menggunakan teori Cutlip dan Center sebagai landasan teoritis dalam memahami efektifitas komunikasi persuasif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan Guide Museum Blambangan dan pengunjung Generasi Z, observasi partisipatif, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara induktif. Hasilnya, Hambatan dalam penerapannya, yakni Bahasa dan keterbatasan efektivitas penyampaian pesan. Secara keseluruhan, strategi ini berhasil meningkatkan partisipasi, minat belajar, dan kepuasan pengunjung Generasi Z Banyuwangi dalam wisata edukasi di Museum Blambangan.
Copyrights © 2026