Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan serta perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik setelah diterapkannya model Guided Discovery Learning (GDL) berbantuan media Amrita dan model Inquiry Learning berbantuan media Amrita pada materi suhu dan kalor. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimen melalui non-equivalent control group design. Populasi penelitian terdiri atas 207 peserta didik kelas XI di SMAN 14 Garut, dengan teknik cluster random sampling. Sampel penelitian yaitu kelas XI-5 sebagai kelas eksperimen pertama (31 peserta didik) dan kelas XI-6 sebagai kelas eksperimen kedua (30 peserta didik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keterlaksanaan pembelajaran pada kelas eksperimen pertama mencapai 90% untuk aktivitas guru dan 84% untuk aktivitas peserta didik, sedangkan pada kelas eksperimen kedua mencapai 89% untuk aktivitas guru dan 82% untuk aktivitas peserta didik. Keduanya termasuk kategori sangat baik. Peningkatan keterampilan berpikir kritis ditunjukkan oleh nilai N-Gain, yaitu 0,75 (kategori tinggi) untuk kelas eksperimen pertama dan 0,59 (kategori sedang) untuk kelas eksperimen kedua. Hasil uji hipotesis menggunakan independent t-test menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga Hâ‚€ ditolak. Dengan demikian, terdapat perbedaan signifikan dalam peningkatan keterampilan berpikir kritis antara peserta didik yang belajar menggunakan model GDL berbantuan Amrita dan model Inquiry Learning berbantuan Amrita pada materi suhu dan kalor.
Copyrights © 2026