Penelitian ini bertujuan mengkaji relativitas kelicikan dalam kebudayaan Jawa. Unit analisis penelitian berupa pertunjukan wayang kulit dengan lakon Banjaran Sengkuni oleh Ki Purbo Asmoro. Dengan menggunakan model analisis semiotika Roland Barthes dan Charles Charles Sanders Peirce, penelitian ini mengungkap konstruksi kelicikan pada tataran denotatif, konotatif, dan mitos yang dibangun melalui tuturan dan tindakan tokoh Sengkuni dalam lakon tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelicikan tokoh Sengkuni bersifat relatif, karena dalam konteks tertentu dimaknai sebagai bentuk loyalitas keluarga, instrumen kelanggengan kekuasaan, dan kecerdasan strategi untuk memperoleh kekuasaan. Ttemuan ini menegaskan bahwa wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan dan pendidikan moral, tetapi juga sebagai ruang refleksi kritis terhadap dinamika sosial dan praktik kekuasaan yang terus relevan dengan kehidupan masyarakat.
Copyrights © 2026