Abstract: This study aims to analyze gender-based violence through the lens of Stoic philosophy, focusing on the concepts of self-control and human dignity. Gender violence is viewed not merely as a legal or social violation but as an ethical crisis rooted in humanity’s failure to master emotion and dominance impulses. Employing a qualitative-descriptive approach with library research, this study examines journals and classical to contemporary moral philosophy sources. Stoic ethical principles are applied to interpret gender violence as a loss of rationality and a failure to uphold virtue ethics. The findings reveal that Stoicism offers a moral framework based on the four cardinal virtues—wisdom, justice, temperance, and courageas the foundation for developing moral awareness and anti-violence character. Self-control in Stoicism is not emotional suppression but a rational process of moral discipline that safeguards both self-respect and human dignity. This research concludes that Stoic ethics can serve as an alternative paradigm for addressing gender-based violence and fostering a morally conscious, just, and civilized society.Keywords: Stoicism, Gender-Based Violence, Self-Control, Human Dignity. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena kekerasan berbasis gender dalam perspektif filsafat Stoikisme dengan fokus pada konsep pengendalian diri. Kekerasan gender dipandang tidak hanya sebagai pelanggaran hukum dan sosial, tetapi juga sebagai krisis etika akibat kegagalan manusia dalam mengendalikan emosi dan dorongan dominasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan telaah pustaka terhadap sumber-sumber sekunder berupa jurnal serta literatur filsafat moral klasik dan kontemporer. Kerangka teori Stoikisme digunakan untuk menafsirkan kekerasan gender sebagai bentuk kehilangan rasionalitas dan kegagalan dalam menegakkan kebajikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Stoikisme menawarkan solusi etis yang berakar pada empat kebajikan utama wisdom, justice, temperance, dan courage yang dapat menjadi prinsip inti yang dapat membimbing seseorang untuk menjalani kehidupan dengan baik dan fokus pada tindakan yang dapat dikendalikan dan penerimaan terhadap hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Pengendalian diri dalam Stoikisme bukan represi terhadap emosi, melainkan proses rasionalisasi moral yang menjaga kehormatan diri dan martabat manusia. Kajian ini menegaskan relevansi Stoikisme sebagai paradigma etika alternatif dalam upaya penghapusan kekerasan berbasis gender dan memperlakukan manusia sesuai martabatnya, mengakui persamaan derajat dan hak, serta bertindak sesuai norma kesopanan dan kebenaran, baik dalam pergaulan sesama manusia maupun terhadap lingkungan.Kata kunci: Stoikisme, Kekerasan Gender, Pengendalian Diri, Martabat Manusia.
Copyrights © 2026