Latar Belakang : Intensive Care Unit merupakan tempat perawatan pasien kritis,gawat, mempunyai risiko tinggi kejadian kegawatan dengan sifat yang reversible.Penerapan kriteria fisiologis membantu tim medis dalam menilai kategori pasienyang seharusnya masuk ICU atau rawat inap biasa. Sehingga pasien dengan kriteriatersebut benar-benar bisa di rawat khusus di ICU dan angka kejadian code blue dirawat inap bisa berkurang.Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh implementasi penerapan kriteria fisiologismasuk rawat intensive secara terpisah terhadap peningkatan jumlah pasien danpenurunan angka kejadian code blue di RSI Yogyakarta PDHI.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik denganmenggunakan metode retrospektif, penelitian ini mengumpulkan jumlah pasienmasuk tiga bulan sebelum penerapan kriteria fisiologis masuk rawat intensive secaraterpisah yaitu pada bulan Januari-Maret 2022 dan tiga bulan sesudah penerapankriteria fisiologis masuk rawat intensive secara terpisah pada bulan April-Juni 2022serta mengumpulkan data pasien code blue pada bulan tersebut.Hasil : Hasil uji analisis menggunakan paired t-test didapatkan data bahwa nilaisignifikasi (p) untuk jumlah kenaikan Pasien masuk rawat Intensive sebelum dansesudah penerapan kriteria fisiologis sebesar 0,001 dan untuk Code blue sebelum dansetelah penerapan kriteria fisiologis masuk rawat intensive sebesar 0,004 dengan α =0,05. Dimana nilai tersebut (p < 0,05) maka Ho ditolak, artinya ada pengaruhpenerapan kriteria fisiologis masuk rawat intensive secara terpisah terhadap kenaikanjumlah pasien intensive care dan penurunan angka kejadian code blue di RS IslamYogyakarta PDHI.Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi penerapan kriteriafisiologis masuk rawat intensive secara terpisah dapat mempengaruhi peningkatanjumlah pasien dan penurunan angka kejadian code blue di RSI Yogyakarta PDHI
Copyrights © 2024