Digitalisasi pendidikan menjadi salah satu agenda penting dalam transformasi sistem pendidikan di Indonesia. Namun, dalam perspektif analisis wacana kritis, kebijakan digitalisasi pendidikan tidak hanya merepresentasikan perubahan teknologis dalam proses pembelajaran, tetapi juga merupakan konstruksi wacana yang memuat relasi kekuasaan dan kepentingan ideologis tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi aktor sosial dalam pemberitaan mengenai peluncuran program digitalisasi pembelajaran oleh Presiden Prabowo Subianto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Wacana Kritis (AWK) model Theo van Leeuwen yang berfokus pada strategi eksklusi dan inklusi dalam representasi aktor sosial. Data penelitian berupa teks berita dari Kompas.id edisi 17 November 2025 berjudul “Luncurkan Digitalisasi Pembelajaran, Presiden Dorong Percepatan Transformasi Pendidikan.” Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks berita cenderung menampilkan dominasi representasi aktor negara, khususnya Presiden dan Menteri, melalui strategi nominasi dan individualisasi yang menempatkan mereka sebagai penggerak utama transformasi pendidikan. Sebaliknya, aktor pendidikan seperti guru dan murid lebih sering direpresentasikan sebagai kelompok kolektif melalui strategi pasivasi dan asimilasi, sehingga peran dan agensi mereka dalam proses pendidikan menjadi kurang terlihat. Selain itu, penggunaan angka dan statistik dalam teks berfungsi sebagai strategi legitimasi kebijakan yang menonjolkan capaian kuantitatif program digitalisasi pendidikan. Temuan ini menunjukkan bahwa wacana digitalisasi pendidikan dalam media tidak hanya menyampaikan informasi kebijakan, tetapi juga membangun konstruksi ideologis mengenai peran negara dan teknologi dalam sistem pendidikan.
Copyrights © 2026