Lansia merupakan seseorang yang memasuki fase akhir kehidupan yang ditandai dengan melemahnya kondisi fisik dan berkurangnya kemampuan tubuh dalam merespon perubahan lingkungan secera efektif. Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami berbagai perubahan fisiologis, termasuk penurunan kekuatan otot tungkai yang terjadi akibat berkurangnya massa dan kemampuan otot. Kekuatan otot tungkai berperan penting dalam menunjang kestabilan postur tubuh, kemampuan bergerak, serta fungsi aktivitas sehari-hari pada lansia. Melemahnya kekuatan otot tungkai dapat meningkatkan risiko terjadinya jatuh yang berdampak pada cedera fisik, berkurangnya tingkat kemandirian, serta penurunan kualitas hidup. Oleh karena itu, kajian mengenai hubungan antara kekuatan otot tungkai dan risiko jatuh pada lansia menjadi penting sebagai dasar dalam upaya pencegahan serta penyusunan intervensi fisioterapi yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai terhadap risiko jatuh pada lansia di PCA Pajangan Bantul. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah lansia yang tergabung dalam komunitas PCA Pajangan Bantul berjumlah 110 lansia. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 85 lansia yang diperoleh dengan Teknik purposive sampling. Kekuatan otot tungkai diukur menggunakan instrumen Five Times Sit to Stand Test (FTSTS), sedangkan risiko jatuh diukur menggunakan Morse Fall Scale (MFS). Uji Normalitas dengan Shapiro Walk didapat data tidak normal. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kekuatan otot tungkai dan risiko jatuh pada lansia (r = 0,666; p > 0,000). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara penurunan kekuatan otot tungkai dengan peningkatann risiko jatuh pada lansia.
Copyrights © 2026