Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Peran Pendekatan Neurosains Terhadap Kemampuan Problem Solving Anak Usia Dini (PAUD). Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) di mana perkembangan otak berlangsung sangat pesat dan memiliki tingkat neuroplastisitas tertinggi. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang selaras dengan cara kerja otak anak menjadi kunci untuk membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills). Manfaat penelitian ini adalah memberikan landasan ilmiah bagi guru, orang tua, dan pengambil kebijakan dalam merancang kegiatan pembelajaran yang berbasis pada pemahaman neurosains sehingga dapat menstimulasi fungsi eksekutif anak, seperti working memory, inhibitory control, dan cognitive flexibility. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dan wawancara terhadap satu pendidik PAUD. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang bersifat interpretatif berdasarkan kajian teori dan hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip neurosains dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai strategi, seperti bermain konstruktif, stimulasi bahasa melalui pertanyaan terbuka, pembelajaran berbasis proyek sederhana, serta permainan sosio-dramatik. Selain itu, lingkungan belajar yang aman secara emosional terbukti mampu meningkatkan motivasi, kreativitas, dan kemampuan anak dalam memecahkan masalah secara mandiri. Guru yang memahami dasar neurosains lebih mampu menciptakan suasana belajar yang berpusat pada anak dan mendukung perkembangan fungsi eksekutif secara optimal. Dengan demikian, integrasi pendekatan neurosains dalam pendidikan anak usia dini menjadi strategi efektif untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan kreatif sebagai bekal menghadapi tantangan abad ke-21
Copyrights © 2025