Individu dengan kondisi neurodivergen, seperti autisme, ADHD, disleksia, dan gangguan pemrosesan sensorik, memiliki karakteristik kognitif, emosional, dan sosial yang berbeda dari mayoritas populasi neurotipikal. Dalam konteks bimbingan dan konseling, keberagaman tersebut menuntut konselor untuk memiliki pemahaman yang mendalam, pendekatan empatik, serta strategi layanan yang adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran utama konselor dalam memberikan layanan konseling bagi individu neurodivergen serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam praktiknya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konselor berperan sebagai fasilitator penerimaan diri, mediator sosial, serta pengembang potensi individu neurodivergen melalui pendekatan berbasis kekuatan (strength-based approach). Tantangan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan pelatihan profesional, kurangnya dukungan institusional, serta bias sosial terhadap neurodiversitas. Kesimpulannya, efektivitas layanan konseling bagi neurodivergen sangat bergantung pada kompetensi konselor dalam memahami konsep neurodiversitas, penerapan teknik intervensi inklusif, serta dukungan kolaboratif dari lingkungan pendidikan dan keluarga.
Copyrights © 2025