Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna filosofis tradisi bagatik tulak bala pada masyarakat Nagari Koto Tinggi Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan dan pendekatan filosofis. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagatik tulak bala merupakan tradisi keagamaan yang dilaksanakan sekali dalam setahun sebagai ikhtiar kolektif untuk menolak bala atau bahaya melalui zikir bersama yang dipimpin oleh ulama dan berkaitan dengan amalan tarekat Syattariyah. Prosesi tradisi ini meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutupan. Pada tahap pelaksanaan, masyarakat berzikir sambil berarak keliling kampung dengan membawa obor dan diiringi gandang tasa. Simbol-simbol yang digunakan, seperti daun-daunan, jeruk nipis, kemenyan, obor, gandang tasa, dan sedekah, mengandung makna filosofis berupa perlindungan, penyucian, keseimbangan spiritual, dan kebersamaan. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi bagatik tulak bala bukan hanya ritual adat, tetapi juga media pewarisan nilai religius, sosial, dan budaya yang berfungsi menjaga keselamatan serta keharmonisan masyarakat.
Copyrights © 2026