Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara task aversiveness dengan prokrastinasi pada remaja SMA yang berorganisasi. Masa remaja yang masih dalam proses perkembangan regulasi diri membuat remaja rentan menunda penyelesaian tugas, terutama ketika tugas dipersepsikan tidak menyenangkan. Task aversiveness yang ditandai oleh boredom, frustration, dan resentment diduga berperan dalam meningkatkan kecenderungan prokrastinasi pada konteks organisasi remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 405 remaja SMA yang aktif berorganisasi minimal enam bulan dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Pure Procrastination Scale (PPS) oleh Steel (2010) untuk mengukur prokrastinasi dan skala task aversiveness yang dikembangkan peneliti berdasarkan dimensi Blunt dan Pychyl (2000). Analisis data menggunakan korelasi Spearman rho. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara task aversiveness dengan prokrastinasi pada remaja SMA yang berorganisasi. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi ketidaksenangan terhadap tugas, semakin tinggi kecenderungan remaja melakukan prokrastinasi. Analisis dimensi menunjukkan bahwa boredom dan resentment berhubungan positif dan signifikan dengan prokrastinasi, sedangkan dimensi frustration menunjukkan hubungan negatif dan tidak signifikan dengan prokrastinasi. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa task aversiveness secara umum merupakan faktor psikologis yang berperan dalam munculnya prokrastinasi pada remaja SMA yang berorganisasi, meskipun tidak semua dimensinya memberikan kontribusi yang signifikan. Temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi pengelola organisasi remaja untuk merancang strategi yang dapat menurunkan persepsi ketidaksenangan terhadap tugas serta meminimalkan perilaku prokrastinasi.
Copyrights © 2026