Pelayanan kefarmasian yang berinteraksi langsung dengan pasien terutama diwujudkan melalui pelayanan farmasi klinik, salah satunya melalui kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dalam pelayanan resep maupun nonresep (swamedikasi). KIE memiliki peran penting dalam mendukung penggunaan obat yang rasional, aman, dan efektif, khususnya pada praktik swamedikasi di mana pasien melakukan pemilihan dan penggunaan obat secara mandiri tanpa pengawasan langsung dari tenaga medis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi pola pelaksanaan, tingkat mutu, dan tantangan yang dihadapi dalam pemberian KIE. Hasil analisis literatur menunjukkan bahwa mutu KIE dalam pelayanan swamedikasi umumnya berada pada kategori baik, dengan aspek komunikasi sebagai komponen yang paling dominan dan dinilai positif oleh pasien, terutama terkait sikap ramah, empati, dan kejelasan penyampaian informasi oleh tenaga kefarmasian. Hasil menunjukan bahwa evaluasi mutu KIE berbasis pengalaman pasien merupakan strategi penting untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan swamedikasi di apotek secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026