Tren penuaan global menempatkan lansia institusional, yaitu lansia yang tinggal di fasilitas perawatan, sebagai kelompok prioritas dalam pemantauan kesehatan oral. Kondisi gingiva pada populasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari karakteristik demografis hingga kapasitas perawatan mandiri. Penelitian ini bertujuan memetakan profil kesehatan gingiva dan mengidentifikasi determinannya meliputi faktor sosiodemografis, klinis, serta pengetahuan, sikap, dan perilaku (Knowledge, Attitude, Practice (KAP)) kesehatan oral pada lansia di Panti Tresna Wredha Abiyoso, Sleman, Yogyakarta. Studi potong lintang ini melibatkan 67 lansia berusia ≥60 tahun yang direkrut melalui teknik total sampling sesuai kriteria inklusi-eksklusi yang telah ditetapkan. Kriteria inklusi mencakup lansia berusia ≥60 tahun yang mandiri secara fisik dan kognitif, sedangkan lansia edentulus total, mengalami gangguan komunikasi berat, demensia, atau kondisi bedridden dieksklusikan dari penelitian. Status inflamasi gingiva diukur menggunakan Modified Gingival Index (MGI), sedangkan dimensi KAP dinilai melalui kuesioner tervalidasi yang diadaptasi dari instrumen Wong tahun 2020. Seluruh data dianalisis dengan uji Chi-Square. Temuan menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (52,2%) berada dalam kategori MGI tinggi, mengindikasikan prevalensi gingivitis yang substansial. Dari seluruh variabel yang diuji, hanya jenis kelamin (p=0,029) dan status penggunaan gigi tiruan (p=0,033) yang terbukti berhubungan signifikan dengan kondisi gingiva. Sementara itu, pengetahuan (p=0,177), sikap (p=0,741), dan perilaku (p=0,890) tidak menampilkan asosiasi bermakna secara statistik. Hasil ini menggarisbawahi bahwa pada lansia institusional, determinan kesehatan gingiva bersifat multidimensi dan tidak dapat direduksi hanya pada kapasitas kognitif serta perilaku oral semata.
Copyrights © 2026