Perkembangan media sosial di era digital telah mengubah pola komunikasi dakwah Pendidikan Agama Islam (PAI) dari model konvensional menuju model komunikasi berbasis algoritma yang menuntut efektivitas, kecepatan, dan keterlibatan audiens. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep qaulan baligha sebagai prinsip komunikasi Islam dalam konteks dakwah digital serta merekonstruksi model komunikasi dakwah berbasis nilai-nilai Qur’ani yang relevan dengan karakteristik media sosial modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui analisis terhadap Al-Qur’an, tafsir klasik, buku, dan jurnal ilmiah yang berkaitan dengan dakwah digital, algoritma media sosial, dan komunikasi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa qaulan baligha tidak lagi dipahami hanya sebagai perkataan yang baik dan jelas, tetapi juga sebagai strategi komunikasi yang mampu menarik perhatian, menyentuh emosi, dan mendorong perubahan perilaku audiens di ruang digital. Dalam era algoritma, keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kebenaran materi, tetapi juga oleh kemampuan dai menyesuaikan pesan dengan logika platform media sosial seperti hook, retention, dan engagement. Figur Lukman al-Hakim menjadi representasi ideal dai digital karena mampu memadukan hikmah, ketulusan, etika komunikasi, dan kecerdasan membaca kondisi audiens. Konsep ghadhdhal shaut yang menekankan komunikasi lembut dan humanis relevan sebagai model etika komunikasi digital di tengah dominasi konten agresif dan sensasional di media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model komunikasi dakwah berbasis qaulan baligha dapat menjadi pedoman strategis bagi dai dalam membangun dakwah digital yang tidak hanya viral secara algoritmik, tetapi juga bermakna secara spiritual dan sosial.
Copyrights © 2026