Budaya memiliki peran besar dalam pembentukan ruang permukiman, termasuk aktivitas menenun yang merupakan budaya Masyarakat Sasak. Sebagai salah satu bentuk kearifan lokal, aktivitas ini tidak hanya mendukung cara hidup masyarakat, tetapi juga memberikan dampak yang signifikan terhadap penggunaan ruang dalam praktik tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji aktivitas fisik, seperti menenun, dapat memengaruhi pola ruang seseorang, baik dalam konteks fisik maupun sosial. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif yang mencakup studi literatur, wawancara mendalam, dan teknik observasi lapangan. Berdasarkan seluruh hasil penelitian, aktivitas ini umumnya berpengaruh terhadap pemeliharaan dan fungsi rumah, serta terhadap realitas konstruksi dalam satu lingkungan tertentu. Ruang menenun biasanya terletak di luar rumah atau di teras untuk memfasilitasi interaksi sosial. Selain itu, pola permukiman menunjukkan adanya kecenderungan terbentuknya klaster berdasarkan kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan menenun, yang kemudian membentuk struktur sosial yang kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas lokal seperti menenun memiliki peran penting dalam membentuk identitas ruang dan permukiman.
Copyrights © 2026