Ada alarm yang berbunyi nyaring di Rapor Pendidikan tahun 2025: karakter siswa kita sedang tidak baik-baik saja. Berangkat dari keresahan itulah, kami memutuskan untuk membedah efektivitas "Papan Emosi" di SD Islam Darussalam Palangka Raya melalui lensa evaluasi CIPP. Kami tidak ingin sekadar mengintip permukaan, jadi metode mixed methods dengan desain sequential explanatory dipilih sebagai pisau bedah untuk mengupas tuntas realita di lapangan. Hasilnya cukup mengejutkan. Dari sisi konteks, program ini sebenarnya sudah berada di rel yang benar isi sekolah dan praktik PSE (Pembelajaran Sosial-Emosional) ini terasa sangat sinkron. Namun, kesiapan teknis tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan mental. Meski media "Papan Emosi" sudah siap tempur di sudut-sudut kelas, kami menemukan celah besar pada kapasitas guru dalam memvalidasi emosi siswa secara mendalam. Guru butuh lebih dari sekadar panduan; mereka butuh ketajaman empati. Titik kritis justru muncul pada fase proses. Skor 2.96 adalah sebuah teguran keras. Penyebabnya klasik namun fatal: manajemen waktu di pagi hari yang sering kali menjadi medan tempur yang semrawut. Sangat disayangkan, karena sebenarnya di hilir pada evaluasi produk-program ini membuahkan hasil yang manis. Anak-anak mulai mahir melabeli apa yang mereka rasakan, dan secara ajaib, riuh rendah konflik di dalam kelas mulai mereda. Kami sampai pada satu keyakinan: program ini terlalu berharga untuk dihentikan. Namun, membiarkannya berjalan tanpa perubahan adalah sebuah kesalahan. "Sistem Dua Fase" harus segera disuntikkan agar interaksi antara guru dan siswa tidak lagi terjebak pada formalitas belaka, melainkan menjadi percakapan yang mengubah jiwa.
Copyrights © 2026